mengikuti nilai yang dikembangkan oleh pimpinan kelompok, sikap, pikiran, perilaku, dan gaya hidupnya merupakan
perilaku dan gaya hidup kelompoknya.
D. Lingkungan Masyarakat
Dalam kehidupanya, manusia dibimbing oleh nilai-nilai yang merupakan pandangan mengenai apa yang baik dan apa
yang buruk. Nilai yang baik harus diikuti, dianut, sedangkan yang buruk harus dihindari, sesuai dengan aspek
rohaniah dan jasmaniah yang ada pada manusia, maka manusia dibimbing oleh pasangan nilai materi dan non-
materi. Apabila manusia hendak hidup secara damai di masyarakat, maka sebaiknya kedua nilai yang merupakan
pasangan tadi diserasikan akan tetapi kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa nilai materi mendapat tekanan
lebih besar daripada nilai non-materi atau spiritual. hal ini terbukti dari kenyataan bahwa sebagai tolok ukur peranan
seseorang dalam masyarakat adalah kebendaan dan kedudukan.
Lingkungan masyarakat terdiri dari :
Sosial Budaya
Dalam era globalisasi, dunia menjadi sempit, budaya lokal dan budaya nasional akan tertembus oleh budaya
universal, dengan demikian akan terjadi pergeseran nilai kehidupan, kemajuan ilmu Pengetahuan dan teknologi
sangat berpengaruhterhadap pesatnya informasi. Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi dengan sekejap
diketahui oleh seluruh penghuni bumi. Di rumah dan di sekolah, Orang –tua dan guru, lebih banyak mengharapkan
nilai spiritual menjadi pegangan remaja. Namun, kenyataan membuktikan sebaiknya ini karena yang diajarkan
berbeda dengan yang dilihat di luar rumah dan di luar sekolah. Remaja menjadi bingung, mana yang harus
dilakukan. Situasi ini menimbulkan konflik nilai yang dapat berakibat terjadinya penyimpangan perilaku, seperti yang
terlihat di masyarakat, misalnya waria, pergaulan bebas, mabuk, dan homoseksualitas.
Dalam era globalisasi pengakuan akan hak asasi manusia mulai memesyarakat. Bagi Indonesia yang kini sedang
dalam era reformasi, pelaksanaan hak asasi manusia merupakan masalah tersendiri. Nilai sosial yang selama ini
diutamakan bergeser pada nilai individual. Bagi remaja yang sedang dalam masa mencari identitas diri dan
penyesuaian sosial, situasi Ini merupakan titik kritis, Bukan tidak mungkin hal ini akan berakibat terjadinya konflik
kejiwaan pada sebagian remaja, Remaja akan merasakan adanya nilai “ kekolotan “ pada orang dewasadan nilai “
inovatif “ atau “ Pembaharuan “ pada orang dewasa dan nilai “ inovatif “ atau “ pembaharuan “ pada generasinya.
Sementara itu ada tuntutan dari pihak orang dewasa agar remaja mengikuti aturan budaya, kecemasan akan
menghadapi hukuman, ancaman dan tidak adanya kasih sayang merupakan dorongan yang menyebabkan remaja
terpaksa mengikuti tuntutan lingkungan budaya (socialized anxity) . Kalau kecemasan ini terlalu berat, akibat yang
ditimbulkan adalah hambatan tingkah laku. Remaja yang bersangkutan jadi serba ragu, serba takut, dan dapat
menjurus kepada keadaan cemas yang patologis. Tetapi dalam kondisi yang tepat, Kecemasan ini mendorong remaja
untuk lebih bertanggung jawab, hati-hati dan menjaga tingkah lakunya agar selalu sesuai dengan norma yang
berlaku. Remaja dapat bertingkah laku normal sesuai dengan harapan masyarakat.
Sebenarnya remaja sadar akan pentingnya kebudayaan sebagai tolok ukur terhadap tingkah laku sendiri.
Kebudayaan memberikan pedoman arah, persetujuan, pengingkaran, dukungan, kasih sayang dan perasaan aman
kepada remaja. Akan tetapi mereka juga punya keinginan untuk mandiri. Inilah yang menyebabkan remaja membuat
tolak ukur mereka sendiri, yang berbeda dari tolak ukur orang dewasa, Mereka membuat kebudayaan sendiri yang
berbeda dari kebudayaan masyarakat umumnya. Kebudayaan yang menyimpang inilah yang dikenal sebagai
kebudayaan anak muda (youth culture). Nilai yang dominan dalam budaya anak muda adalah keunggulan dalam
olah raga, disenangi teman, senang hura-hura senang pesta, tidak dianggap pengecut, dan sebagainya.
Media Massa
Abad ini adalah abad informasi, yang ditandai oleh kemajuan yang sangat pesat di bidang teknologi informasi
kemajuan teknologi komunikasi yang luar biasa membawa kegembiraan, menyenangkan serta wawasan yang lebih
luas, tetapi juga membawa kesedihan, Betapa tidak, hubungan antar manusia bergeser menjadi hubungan antar
mesin. Melalui radio, televisi, Internet manusia saling berhubungan, hubungan antar manusia yang manusiawi
menjadi pudar.Remaja sibuk “ berkomunikasi “ dengan televisi, radio,VCD, atau internet. Media elektronik yang saat
ini melanda setiap rumah adalah televisi. Suatu penelitian di Amerika menunjukkan bahwa remaja menonton tv lebih
dari 3 jam setiap harinya. Bagaimana di Indonesia, khususnya di kota-kota besar ? Televisi telah merenggut waktu
luang yang sangat berharga di rumah. Hubungan antar anggota keluarga menjadi sangat minim. Komunikasi dalam
keluarga yang bisa menumbuhkan saling pengertian, kasih sayang, kerjasamamenjadi surut, Tidak sekadar
kehilangan waktu luang yang berharga, tetapi remaja lebih rugi karena menikmati program yang sering kurang
mendidik, misalnya tayangan kekerasan dan kehidupan seksual.
Kemajuan media elektronik yang sedang melanda saat ini membuat remaja menyerbu kenikmatan memutar vcd dan
internet, dengan tayangan dan berita yang kurang mendidik. Bagi remaja media massa dimanfaatkan sebagai pengisi
waktu luang untuk lebihbanyak meresapi nilai kehidupan yang tidak sesuai dengan kehidupan yang ada.
Dikhawatirkan nilai yang diserap tersebut akan mempengaruhi perilaku dan gaya hidupnya sehari-hari. Sesuai
dengan perkembangan heteroseksualitasnya ,remaja menikmati media cetak, dan cenderung ke arah media cetak
yang berisikan kehitdupan seksual. Keingin tahuan tentang seksual merupakan pendorong bagi remaja untuk
memanfaatkan media cetak dalam pemenuhan kebutuhannya. Apakah hal ini yang mengakibatkan kecenderungan
adanya “ kemerosotan “ moral dikalangan remaja, belum ada penelitian yang membuktikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar